Sampah Plastik Menumpuk di Pantai, Komunitas dan Warga Lokal Bergerak Selamatkan Ekosistem
Pantai Cermin,
Sumatera Utara — Volume sampah plastik yang mengotori Pantai Cermin melonjak drastis
dalam seminggu terakhir, menyusul padatnya kunjungan wisatawan selama libur
panjang. Berdasarkan pantauan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Serdang
Bedagai, peningkatan sampah mencapai 40 persen dibandingkan hari biasa, dengan
mayoritas berupa botol plastik, kantong kresek, dan sisa kemasan makanan.
Situasi ini
memicu kekhawatiran akan dampak jangka panjang terhadap ekosistem pesisir,
terutama terhadap biota laut seperti penyu, ikan, dan burung laut yang kerap
menjadi korban sampah plastik.
“Penyu yang
datang bertelur di sini bisa salah mengira plastik sebagai ubur-ubur dan
memakannya. Itu bisa menyebabkan kematian,” ujar Riko Andika, Ketua Komunitas Pesisir Bersih,
sebuah organisasi lingkungan yang aktif mengedukasi masyarakat pesisir.
Setiap akhir
pekan, komunitas ini rutin melakukan kegiatan bersih pantai bersama para
relawan dan siswa sekolah. Pada Sabtu pagi (19/4), lebih dari 100 kilogram
sampah berhasil dikumpulkan dalam aksi bersih pantai yang digelar bersama warga
dan pelajar lokal.
“Masalahnya
bukan hanya volume sampah, tapi kurangnya kesadaran dari pengunjung,” tambah Riko. “Masih banyak yang
membuang sampah sembarangan atau meninggalkan sampah setelah piknik.”
DLH Serdang
Bedagai mengakui bahwa fasilitas pengelolaan sampah di kawasan wisata belum
memadai. Kepala DLH, Nurhidayat, menyatakan bahwa pihaknya sedang berkoordinasi
dengan pengelola wisata dan desa setempat untuk menambah tempat sampah dan
menyediakan papan peringatan.
“Kami juga
mendorong sanksi tegas bagi pelaku pembuangan sampah sembarangan, baik
wisatawan maupun pedagang,” tegasnya.
Sebagai langkah
pelestarian, Komunitas Pesisir Bersih kini membagikan “eco kit” kepada
pengunjung. Paket tersebut berisi kantong sampah kain, botol minum isi ulang,
dan panduan singkat tentang menjaga kebersihan pantai. Program ini mendapat
dukungan dari beberapa pengusaha lokal dan donatur individu.
Upaya ini menjadi
penting mengingat Indonesia masih menjadi salah satu penyumbang sampah plastik
ke laut terbesar di dunia. Tanpa keterlibatan aktif semua pihak—pemerintah,
masyarakat, dan wisatawan—kondisi pesisir Indonesia bisa semakin memburuk.
“Pantai bukan
tempat sampah. Kalau ingin keindahan ini bertahan untuk anak cucu, kita harus
mulai bertanggung jawab hari ini,” pungkas Riko.